Suka Duka Orang Kaku Yang Jadi Pendaki Terbang

0
ardyan-dan-very-di-surya-kencana-2017

“Elu naik gunung pake drone bang?”

Terus salah gue? Salah porter-porter gue?! Oke, emang salah gue.

Pendaki/pen·da·ki/ n orang yang mendaki;

Terbang orang tanpa kelompok tetap , menumpang dari kelompok satu ke kelompok lain dari gunung satu ke gunung lain. Tidak berniat mencari teman baru atau bahkan cari jodoh, cuma mau biar ada barengan aja. Dapat teman dan jodoh itu anugerah.

Dan tulisan ini bukan tulisan penting, saya tujukan kepada orang-orang gak penting sejagat media sosial yang sembunyi di sudut jalang jiwa-jiwa yang menyebut diri mereka netizen. Orang-orang yang bernaung dalam fraksi Abnegation. Orang-orang kaku yang punya sifat penolong, kehidupan sederhana dan tak pandai berfoto selfie. Ahak!

Tolong dimaklumi kalau belakangan saya agak menurunkan standard kerja saya yang serius, gak abnegation banget. Sebab saya sudah sampai pada fase timbul-tenggelam menyaksikan di negara ini makin banyak manusia sok serius padahal nyatanya gak serius-serius amat. Terutama yang duduk di gedung parlemen dan loket BAAK Kampus.

Iya ini saya nyaci bukan nyindir. Kerjane seharian nonton youredtube kok yo raut komukmu itu serasa digaji pakai sayur genjer! Pada sesama lelaki klen pasang wajah-wajah ‘abasa watawalla. Begitu ketemu mahasiswi ala ala biduanita klien lancarkan ajian-ajian maut khas Warkop DKI. Sebegitu parahkah masa-masa menjomlo kalian? Sampah!

Sesabarnya saya sebagai mahasiswa teladan yang memaksimalkan jatah masa kuliah 7 tahun, tetap ada penyesalan kalau beta punya waktu harus terbuang percuma untuk melihat wajah-wajah lesu yang kerja setengah hati. Saya juga punya masalah dan gak harus juga saya kasih tau betapa menyedihkannya statistik kunjungan blog ini sampai-sampai saya harus menjalang untuk mendapatkan visitor. Helloooo..

Berjuang cuma untuk mendapatkan paling sedikit 5 visitors per hari. Di bawah standard ngenes itu dipastikan saya mulai sembelit di depan komputer. Belum lagi tempo hari, segerombolan visitors dari negeri syeonghasyeong (baca: KorSel) berlagak betul menyelamatkan statistik blog ini yang baru mendapatkan 2 visitors di detik-detik pergantian hari. Menjadi total … 6 visitors. Saja.

Kalian kalau mau jadi pahlawan saya gak gitu-gitu jugalah.

Bawa langsung segambreng massa pendukung K-pop kalian untuk joget membaca artikel-artikel gak berfaedah di blog ini. Persis yang dilakukan segerombolan massa ditaksir berjumlah 80 orang hanya untuk membaca artikel review Jodaeiye Nader az Simin. Menjadikan perolehan hari itu sebagai rekor baru kunjungan tertinggi ke blog ini. Kalau ada suhu-suhu blogger yang baca ini saya persilahkan untuk tertawa atau mesem-mesem geli. Tapi sungguh rekor itu amat berarti bagi saya. Hiks.

Terima kasih wahai bapak dosen yang mulia entah siapa namamu dan di mana instansimu, telah memberi tugas review film Iran kepada mahasiswa-mahasiswamu. Tabik!

***

Oleh karena ini tulisan gak penting, menjadi suka-suka saya kalau saya mau membahas soal statistik kunjungan blog saya. Kalian semua merasa tertipu sama judul? Salah sendiri kenapa masih terus dibaca.

Bersama Kelompok Sastra Inggris UIN Syahid

Kala masih unyu unyu. Saya berhutang budi sama mereka-mereka ini karena diajarin salat di gunung. Kalian pendaki pro! Tapi mereka juga bangsat karena banyak menciptakan joke-joke sampah bermodal cerita-cerita nabi. Mulai dari kenapa rokok itu seharusnya boleh sampai Tuhan yang minta di-misscall. Sampah kalian sampah!

Bersama Mantan Anggota Aktif

Pendakian dengan level baper tak terkatakan. Waspada bahaya laten mantan.

Bersama Kelompok Arsitektur UP

Seperti biasa pendaki kaku sedang memakai raincoat hitam, berdiri di tengah. Menutupi sesuatu dengan tangannya, dingin selalu bikin begitu.

Bersama Kelompok MAPAGAMA UGM

Pendakian dengan makanan termewah hasil racikan mbak Laras. Terbodoh karena Verry Lyuzz pasang posisi tenda yang menguntungkan diri sendiri dan saya ketimbang kawan-kawan UGM-nya. Terharu karena saya yang kaku ini cuma bisa ngobrol sama Ekki jomlo pegawai PLN, Majid mahasiswa S2 UI, dan mbak Viema yang hobi nyetel musik dengan volume manjah sepanjang jalur, The Killers jadi yang paling saya ingat sebagai pendaki jomlo kelas kakap.

Perlu kalimat penutupkah? Nampaknya wajah-wajah kalian mulai KZL ya. He he. Intinya saya cuma mau curhat aja kok, gak ada tips dan trik apapun.

Mendaki ya mendaki.

Itu selalu di antara kontemplasi dan pakansi.

Tinggalkan komentar...